
Anekayess-online.com - Ternyata memang begitu banyak teman untuk suka, tetapi teman untuk duka? Satu banding seribu!
Aku baru saja pulang dari rumah Solihin, teman satu tongkronganku. Cuaca siang yang terik membuat langkahku seperti dalam lomba jalan cepat. Di jalan komplek Kotabaru yang menurun, aku melihat seorang pemuda dengan menjingjing kantong plastik hitam tengah berjalan sendiri. Pemuda itulah yang akhir-akhir ini mengundang rasa penasaranku. Aku benar-benar heran dengan sikapnya yang begitu tertutup. Di komplek yang baru kutempati sebulan ini hanya pemuda itu yang belum kenalan secara langsung denganku. Sebenarnya, setiap kali aku berpapasan dengannya, ia selalu mendahului tersenyum ramah. Tapi, setiap kali aku berusaha mengakrabkan diri dengannya, yang kurasakan ia seperti menjaga jarak. Aku sendiri tak mengerti apa yang melatari sikapnya itu.
Awalnya, aku mengira sikapnya itu hanya ditujukan padaku, tapi setelah lama kelamaan aku amati, ternyata pada semua pemuda di komplek Kotabaru ini sikapnya memang seperti itu. Lewat salah seorang pemuda di komplek ini, aku jadi tahu kalau ia biasa di panggil dengan nama, Gayu. Ia berasal dari Kota Aceh dan baru satu tahun berada di komplek ini.
Ku percepat langkahku agar dapat menyusul langkah pemuda itu. Dalam sekejap saja aku sudah berada tepat di sampingnya. “Hai,” sapaku seraya tersenyum ramah.
“Hai juga.” Ia balas tersenyum dengan tak kalah ramah.
“Dari mana?” tanyaku lebih lanjut.
“Nih, abis beli gula dan sabun dari warung,” jawabnya dengan menunjukan kepadaku plastik hitam yang dijinjingnya.
“Emang enak sabun dikasih gula?” selorohku.
Ia tertawa simpul.
“Perkenalkan namaku, Ekbin. Aku orang baru di komplek ini.” Ku ulurkan tanganku.
Ia menjabat tanganku. “Aku Gayu. Lengkapnya, Riga Johan Arigayu. Terserah kamu mau panggil aku Riga, Johan atau Gayu.”
“Rumahmu di nomor 89 kan?” tanyaku meyakinkan nomor rumahnya.
Ia mengangguk.
“Boleh aku main ke rumahmu?”
“Boleh aja. Tapi, di rumah aku selalu sibuk.”
“Memangnya apa kesibukanmu di rumah?”
Gayu tak segera menjawab pertanyaanku, ia seperti berfikir. “Banyak,” akhirnya ia menjawab tanpa memberikan kejelasan. Aku pun tak mau mendesaknya untuk memberikan jawaban yang detail.
Kami telah sampai di depan rumah Gayu.
“Udah ya. Sampai nanti,” ujar Gayu. Ia membuka pintu pagar dan kemudian masuk ke rumahnya tanpa basa-basi menawariku untuk mampir. Kesibukan macam apa yang dilakukan Gayu di rumahnya itu? Atau mungkin juga itu satu alasannya sebagai penolakan terhadapku agar aku tak sampai main ke rumahnya. Tapi, kenapa ia bersikap seperti itu? Aku yakin ada sesuatu yang melatari sikapnya itu.
“Bin, sekarang tugasmu membagi-bagikan kue kering ini ke seluruh rumah di komplek ini,” perintah Mama dengan menyodorkan kardus mie instan yang berisikan penuh kue-kue kering yang dikemas dengan plastik kecil. Selama ini Mama memang bisnis kue kering yang dibuatnya sendiri dan dititip-titipkan ke warung-warung. Selain itu, Mama juga menerima pesanan membuat kue basah untuk acara-acara pesta, atau kue kering untuk hari raya. Penghasilan dari bisnis Mama itu juga lumayan. Dengan penghasilan bisnisnya itu, Mama dapat melengkapi perabotan rumah tanpa menggunakan uang gajih Papa.
“Apa enggak sayang kue sebanyak ini dibagi-bagikan gratis, Mah?” protesku.
“Bin… kita di komplek ini kan orang baru, ini sebagai sarana mengakrabkan diri dengan warga, dan juga sebagai satu strategi bisnis. Nanti juga setelah mereka merasakan kue Mama, mereka pasti akan ketagihan. Nanti saat Mama mengikuti pengajian di Masjid, mereka pasti menanyakan ke Mama perihal kue ini. Dan Mama akan bilang kalau Mama memang bisnis kue. Pasti deh mereka akan memesan kue ke Mama.”
“La iyalah, kue Mama kan enak,” ucap Mama dengan bangganya. Aku hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala melihat kebanggan Mama. Tapi, dalam hati, aku pun ikut bangga akan keahlian Mama yang memang dapat membuat bermacam-macam kue yang lezat. Aku pun segera memenuhi perintah Mama untuk membagi-bagikan bungkusan kecil kue-kue kering ke rumah-rumah di komplek ini.
Sudah setengah dari jumlah rumah di komplek ini yang aku masuki secara berurutan untuk memberikan kue kering gratis. Kini giliranku memasuki rumahnya Gayu.
“Permisi…” aku membuka pintu pagar dan masuk ke halaman rumah.
Dari dalam sebuah suara menyahut, “Ya…! Siapa, ya?” Krek! Pintu rumah terbuka setengah. Satu kepala menyebul dari dalam. “Cari siapa, ya?”
“Saya putranya Ibu Mimin, warga baru itu, Bu,” beritahuku.
“Oh… ada apa, Dik?” Perempuan seusia ibuku itu membuka pintu rumahnya lebar-lebar.
“Ini ada kue dari ibu saya.” Aku mengambil satu bungkus kue dari dalam kardus dan menyodorkannya pada wanita yang jika dilihat dari bentuk wajahnya begitu mirip dengan wajah Gayu. Ini pasti ibunya Gayu.
“Lho, memangnya ibumu sedang ada acara apa?” wanita itu menerima kue dari tanganku.
“Enggak ada acara apa-apa kok, Bu. Ini kue promosi dari ibu saya, soalnya ibu saya memang bisnis kue semacam ini.”
“Ibumu membuatnya sendiri?”
Aku mengangguk.
“Wah, hebat juga ibumu itu, ya,” puji wanita di depanku ini. Sebagai anak, aku juga bangga jika Mamaku dipuji orang. Siapa dulu, Mamaku! Ucapku bangga dalam hati.
“Kalau begitu sampaikan terima kasih ibu kepada ibumu, ya.”
“Iya, Bu.”
“Mau minum dulu,” perempuan itu menawarkan dengan tersenyum ramah.
“Enggak terima kasih, Bu. Eh iya, Bu, Gayunya ada?” Sendari tadi aku mengobrol dengan wanita ini, aku tak melihat Gayu atau mendengar suaranya.
“Oh, Adik ini kenal dengan Gayu juga rupanya.”
“Baru kemarin, Bu.”
“Oh… baru kenal kemarin. Gayu ada di taman belakang. Kalau adik mau menemuinya, adik bisa lewat dari situ,” tunjuknya pada lorong sempit yang hanya cukup dilalui satu orang.
Setelah mempertimbangkan sejenak, akhirnya aku memutuskan untuk menemui Gayu. Aku memang ingin tahu apa saja yang dilakukan peGayu tengah duduk di bangku panjang yang terbuat dari potongan bambu sambil mengamati taman bunga. Segala macam bunga tumbuh di taman itu. Aku tak mengira, kalau Gayu ternyata menyukai bunga. Karena setahuku, di rumah ini tak ada cewek selain wanita tadi.
“Hai, lagi nyantai nih,” sapaku.
Sedikit terkejut Gayu menolehkan kepalanya. “Bagaimana kau bisa sampai ke sini?” tanyanya.
“Aku baru saja mengirimkan kue untuk ibumu dari ibuku, dan aku mengetahuimu ada di sini dari ibumu,” aku menerangkan. “Apakah ini yang kau namakan kesibukanmu di rumah?” tanyaku menyindir, mengingat ucapannya beberapa hari yang lalu kepadaku.
Gayu menggeser duduknya. “Duduklah,” ucapnya tanpa memperdulikan sindiranku.
“Apakah semua bunga itu kau yang menanamnya?”
Gayu menganggukan kepalanya.
“Baru pertama kalinya aku mengenal pemuda yang begitu menyukai bunga,” tukasku setengah bergumam. “Setahuku kau tak pernah bergaul, baik dengan pemuda komplek atau dengan teman sekolahmu. Apakah itu karena kesukaaanmu merawat bunga?”
“Sebenarnya aku tidak begitu menyukai bunga, tapi dari pada aku bergaul, lebih baik aku merawat bunga-bunga itu.” Mata Gayu sendari tadi selalu tertuju pada bunga-bunga indah beraneka warna itu.
Dahiku jadi bekerut mendengar perkataannya. “Kenapa kau menganggap bunga-bunga itu lebih penting dari pergaulan?”
“Apakah bagimu pergaulan itu penting?” Gayu balik tanya.
“Jelas!”
“Untuk apa pergaulan?”
“Agar kita banyak teman.”
“Untuk apa banyak teman?”
Pertanyaan Gayu membuatku semakin tak mengerti. “Yu, aku sungguh tak paham dengan pertanyaanmu itu.”
Gayu tersenyum sisnis. “Dulu aku juga sepertimu, begitu menganggap penting pergaulan dan persahabatan.”
“Lantas, apa yang membuatmu kini tak mengangap penting persahabatan dan pergaulan?”
“Beberapa tahun lalu aku hidup dalam kemewahan di Kota Aceh. Ayahku adalah seorang pengusaha material yang sukses. Segalanya aku miliki, mulai dari motor gede yang harganya ratusan juta hingga mobil BMW keluaran terbaru. Kendaraan berharga itu ayah belikan sebagai kendaraan pribadiku. Saat itu temanku sangat banyak. Setiap kali aku pergi ke mana pun aku selalu ditemani banyak teman. Dengan mengaku sahabatku mereka selalu menunjukan kesetiaannya kepadaku. Namun, di suatu ketika ayahku sakit keras yang akhirnya sampai merenggut nyawanya. Karena ibu tak dapat menjalankan usaha peninggalan ayahku itu, perusahaan material yang telah membuat keluargaku hidup dalam kemewahan itu bangkrut.
Sedikit demi sedikit benda-benda berharga milik keluarga kami terjual demi untuk membiayai hidup kami. Termasuk juga motor gede dan mobil BMW-ku. Hingga tinggalah rumah kami yang tersisa. Seiring hilangnya harta kami, satu persatu sahabat setiaku meniggalkan aku. Hingga kekasihku sendiri pun pergi meninggalkan aku. Saat itulah baru kusadari, ternyata semua kebaikan mereka itu palsu. Dan mulai saat itu pulalah aku benci dengan yang namanya pergaulan dan persahabatan. Sebab, semuanya palsu, semuanya palsu!” Diakhir ceritanya suara Gayu terdengar bergetar. Wajahnya memerah. Mungkin ia emosi mengingat masa lalunya yang begitu menyakitkan.
“Mungkin suatu saat kau pun akan mengalami apa yang pernah aku alami.” Gayu mengalihkan pandangannya dari taman bunga, menatapku.
Bukan akan, tapi sudah, ucapku dalam hati. Ya, aku pun pernah punya pengalaman yang tidak meng-enakan tentang pergaulan. Dua tahun yang lalu aku pernah aktif di sebuah sanggar sastra. Di sana aku mempunyai banyak teman. Setiap kali pertemuan kami menghabiskan hari untuk berdiskusi sastra dan juga berbincang-bincang tentang banyak hal, termasuk persoalan pribadi. Namun, di suatu hari, aku harus di operasi di Rumah Sakit karena penyakit usus buntu.
Selama seminggu aku terbaring di Rumah Sakit dan selama satu bulan aku berada di rumah untuk penyembuhan total. Dan selama itu pula tak ada satu pun teman-teman sanggarku yang datang untuk menjenguk. Begitu menyakitkan memang! Ternyata memang begitu banyak teman untuk suka, tetapi teman untuk duka? Satu banding seribu! Hanya aku tetap berusaha berfikir positif, semoga nantinya mereka berubah sikap, atau semoga kelak aku mendapatkan sahabat yang lebih baik dari mereka. Dan kini aku jadi mengerti apa yang melatari sikap Gayu selama ini.
Komplek Kotabaru dihebohkan oleh kecelakaan yang dialami Gayu. Gayu tertabrak mobil saat menyeberang. Kini ia di rawat di Rumah Sakit dalan keadaan kritis.
Mendengar kabar itu aku langsung menuju Rumah Sakit tempat Gayu dirawat. Sesampainya di ruangan tempat Gayu dirawat, aku menyaksikan Mama Gayu yang terus-terusan menangis. Sementara itu, di ranjang, Gayu dalam keadaan pingsan. Keadannya begitu memprihatinkan dengan wajah bengkak dan dipenuhi lecet-lecet, sedangkan kaki kanannya digip. Menurut dokter, tulang betis kaki kanan Gayu retak.
Setelah tangisan Mama Gayu reda. Ia bercerita padaku tentang Gayu yang akhir-akhir ini sering melamun seperti masa setahun lalu. Gayu memang kesepian karena tak memiliki teman yang dapat diajaknya berbagi. Tapi, untuk mencari teman, Gayu trauma karena pernah kecewa dengan apa yang namanya persahabatan. Masih menurut Mama Gayu, setahun lalu ia terpaksa berinisiatif untuk menjual rumahnya di Kota Aceh dan pindah ke kota ini. Di rumah yang baru dibelinya ini, Mama Gayu membuka usaha catering. Gayu bertugas sebagai pengantar catering. Dengan begitu, Mama Gayu berharap Gayu tak punya waktu lagi untuk melamun. Karena setelah ayahnya meninggal, Gayu memang sering kali melamun menyesali nasib. Pesanan catering yang begitu ramai memang terbukti efektif untuk membuatnya tak melakukan kebiasaan melamunnya itu. Namun, akhir-akhir ini usaha catering itu sedang sepi, dan di sela-sela kesenggangan waktu, Gayu kembali melamun. Kemarin, setelah Gayu lama melamun, Gayu pergi tanpa pamit entah ke mana. Terakhir, Mama Gayu mendapat telepon dari pihak kepolisian tentang Gayu yang kecelakaan.
“Ibu berharap kamu dapat mengembalikan sikap Gayu seperti masa-masa ayahnya masih hidup,” tukas Mama Gayu kepadaku. Dari tatapan matanya aku merasakan pengaharapan yang besar akan ucapannya barusan. Aku pun mengangguk, seiring janjiku yang terukir di hati untuk dapat mengembalikan Gayu pada masa-masa keceriaannya.
“Pelan-pelan, kamu pasti bisa, Yu,” ucapku sembari berjalan di sampingnya, menjaga kemungkinan Gayu jatuh. Ia pun dengan susah payah berjalan tanpa kruk yang menopang ketiaknya.
Sudah hampir sebulan setiap sore harinya aku membantu Gayu belajar berjalan tanpa kruk. Jika di hari libur sekolah, aku menemaninya belajar berjalan di pagi dan sore harinya. Setelah kecelakaan itu, Gayu memang tidak dapat berjalan jika tidak dibantu kruk.
“Aku tak kuat lagi, Bin. Tulang kakiku ngilu.” Kening Gayu mengerenyit dengan memegangi paha kanannya. Nafasnya berhembus satu-satu. Aku segera memberikan kruk kepadanya dan kupapah ia untuk duduk beristirahat.
“Mungkinkah aku dapat berjalan normal lagi, Bin?” tanyanya dengan memandangi betisnya yang masih terlilit perban.
“Kalau kamu mau berusaha tentu bisa,” jawabku layaknya seorang dokter, walau aku sendiri tidak tahu pasti. Ya, setidaknya perkataanku dapat menghiburnya.
“Bin, kamu begitu baik kepadaku. Kenapa, Bin?”
Kamis, 03 Juni 2010
akulah sahabtmu
Posted by robind_ndut
03.03, under cerita | No comments
Ichal Blogspot
wallpaper



0 komentar:
Posting Komentar